Monthly Archives: October 2011

Documentary Workshop

workshop

kotakhitam forum will invoke the public’s rediscovery of the ever-diverse Indonesian culture through researched based motion-picture documentaries as an act of critical education by holding periodical activities consisting of Education Programs (discussion workshops, media research) and Production Programs (production of motion-picture documentaries) to achieve its goals, vision, and mission.

 

Work-Out Programme #2012

Sebuah karya dokumenter mengenai  kekerasan negara terhadap etnis Tionghoa di tengah pergolakan massa pada awal kebangkitan Orde Baru. Di mana warisan kekerasan kolonial terhadap etnis Tionghoa masih dapat dirasakan hingga saat ini. Catch the Liong merupakan hasil kolabarasi antara kotakhitam forum dengan Work-Out Programme, sebuah program edukasi sejarah berbasis media dokumenter. Peserta program ini diantaranya, Elizabeth Reilly, mahasiswi Bryn Mawr College, Philadelphia, USA dan Theresia Karninda, seorang aktivis perempuan yang menetap di Yogyakarta. Pembuatan dokumenter ini mengacu pada pendekatan partisipatoris sebagai bagian dari proses penulisan narasi kritis bagi generasi muda.

 

Workshop : Indonesian Summer Internship Program with

Haverford and Bryn Mawr College at kotakhitam forum, June 2012

 

 

Workshop Teknis Dasar Menulis Narasi #2011

Pengalaman masa lalu akan dianggap ada, dan keberadaannya akan berkelanjutan, bila ada tulisan maupun penuturan ulang atas pengalaman tersebut. Dengan begitu pengalaman masa lalu tidak akan hilang ditelan waktu, melainkan dihadirkan kembali ke masa kini. Tetapi, untuk apa pengalaman dan narasi masa lalu itu dihadirkan kembali di masa kini? Jawabannya adalah agar ingatan & pengalaman itu menjadi pelajaran berharga sekaligus sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Dalam menyampaikan narasi masa lampau, masyarakat menggunakan cara tertulis atau cara lisan. Narasi tertulis bisa dibaca berulang-ulang karena menggunakan media atau sarana tulis. Sedangkan narasi lisan disampaikan melalui tuturan. Narasi lisan banyak ditemui pada masyarakat yang belum terbiasa dengan budaya tulis. Kedua narasi ini, tertulis maupun lisan, memiliki kegunaan penting dalam upaya memahami dan menerangkan sejarah suatu masyarakat atau bangsa.

Banyak narasi sejarah yang membawa kita semakin dekat kepada suatu kebenaran historis. Terutama jika narasi-narasi itu berbicara mengenai masa lalu yang gelap. Narasi-narasi sejarah semacam ini sangat diperlukan untuk menyoroti periode sejarah yang selama ini tersembunyi atau disembunyikan. Dalam konteks sejarah Indonesia, banyak peristiwa sejarah yang berhenti di sebuah ruang gelap tanpa penjelasan yang memadai dan kalaupun ada merupakan versi tertentu dari penguasa yang kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa narasi sejarah yang berasal dari penguasa harus disingkirkan. Ada hal-hal tertentu dalam narasi sejarah versi penguasa yang tetap perlu dicermati. Itulah sebabnya suatu studi sejarah akan menjadi lebih menarik bila di dalamnya terkandung narasi yang disampaikan oleh para penguasa serta mereka yang menjadi korban kekuasaan tersebut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak periode kelam dalam sejarah Indonesia yang sampai sekarang belum diangkat secara jujur. Padahal banyak para korban maupun saksi sejarah sudah mulai banyak yang menjadi tua. Untuk itulah penting bagi generasi muda untuk mulai akrab dengan tuturan dan sejarah lisan dari para korban maupun saksi sejarah. Hal ini penting untuk mewariskan ingatan yang jernih bagi perjalanan sejarah bangsa ini ke depan serta mewujudkan rekonsiliasi bangsa, salah satunya melalui medium film dokumenter.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama kotakhitam forum, Pusdep dan Galang Press. Dan telah dilaksanakan pada hari Kamis dan Jumat, 6-7 Oktober 2011, bertempat  di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

 

 

Workshop Video Dokumenter Komunitas Coret, LKIS, Yogyakarta, 2009.

 

Workshop Video Dokumenter Komunitas Coret, LKIS, Magelang, 2009.

 

 

Screening and Discussion

screening&discussion

In short, kotakhitam forum has a vision to be a creative and alternative medium that realizes its visions through the creation of audio-visual work, as an education medium to the general public and also as an invitation to realize the importance of creative work as a part of a cultural movement.

 

Api Kartini

a.dananjaya I documentary I approx.20 minutes I colour I indonesia w/english subtitle I 2012

Synopsis:

More than 40 years on,  the ex-survivors revisited prison camp in Plantungan, Central Java. A place they were isolated because they were/and assumed as members of Indonesian Communist Party (PKI) in a New Order Era. They told a story about their suffering in silence, memories about loss, unspeakable trauma and human consciousness to remember the violence in a different period.

 

Review RoadShow Documentary ” Api Kartini “, October 2012 :

Dari “Larang Tayang” hingga Riuh Diskusi. 

Institut Francais Indonesia, Surabaya

11 Oktober 2012 lalu, agenda pemutaran dan diskusi dokumenter ‘Api Kartini’ berlangsung di Institut Francais Indonesia, Surabaya. Beragam apresiasi dan tanggapan seputar narasi sejarah kekerasan HAM 65 ternyata masih menjadi ketertarikan besar bagi publik Surabaya. Hadir sebagai pembicara, Obed Bima Wicandra, seorang Dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra, Surabaya, turut meramaikan diskusi pada malam itu. Menurutnya, pesan moral Api Kartini merupakan sebuah simbol dari gugatan perjuangan para ibu survivor untuk tetap bertahan mewacanakan ide-ide humanis, ditengah ketidak jelasan pemerintah untuk menangani kasus HAM berat di masa lalu. Selain itu, forum juga membahas bagaimana peranan media alternatif sebagai bagian dari pendidikan kritis generasi muda untuk lebih mengenal sejarah bangsanya.

Universitas Negeri Malang

10 Oktober 2012 silam, kotakhitam Forum (khF) bekerjasama dengan lembaga kemahasiswaan jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang  mengadakan acara  pemutaran dan diskusi dokumenter ‘Api Kartini’. Sangat disayangkan, secara mendadak wakil dari pihak penyelenggara, Dr. Ari Sapto M.Pd,  selaku Pembantu Dekan III, berkeberatan untuk memutar film dokumenter tersebut karena dirasa akan menimbulkan “keresahan” publik. Atas pertimbangan dan kebijakan kampus tersebut, maka pihak penyelenggara membatalkan agenda pemutaran dokumenter. Diskusi pada hari itu tetap berlangsung, dengan himbauan bahwa hanya boleh dihadiri oleh publik internal kampus saja. Berikut rekaman singkat pernyataan Dr. Ari Sapto M.Pd :

14 tahun pasca reformasi,  larangan kebebasan bersuara masih saja terjadi. Runtuhnya rezim Orde Baru harusnya bisa membuka pemikiran atas wacana sejarah menjadi lebih  kritis, khususnya sejarah kekerasan HAM oleh militer yang terjadi paska tragedi ’65.  Jika pelarangan akan suara-suara yang alternatif dan kritis ini terus terjadi, historiografi bangsa kita tidak akan menemukan titik terang. Pemaknaan sejarah yang seharusnya menjadi lebih humanis, mestinya bertumbuh subur di wilayah akademis, mengingat kampus merupakan bagian yang turut melahirkan intelektuil muda yang kritis. Sungguh sangat disayangkan, apabila peristiwa pelarangan atas media penyadaran kritis ini terulang kembali seperti saat Orde Baru berkuasa.

Premiere Screening & Discussion Documentary ” Api Kartini “

Sangkring Art Space Yogyakarta, September 2012.

 

 

r.i.

a.dananjaya I documentary I approx.30 minutes I colour I indonesia w/english subtitle I 2011

Synopsis:

The aspiration to build a new Indonesia under the lead of Soekarno caused the delegation of some citizens to Europe as students, artists, and journalists to absorb new knowledge and gather experiences. During those achievements, the “September 30th” movement (G30S) caused big influences to those who were abroad. The repression from the Orde Baru regime to those who considered leftist and communistic was done through screenings and withdrawals of passports. A few of these citizens chose not to come back to Indonesia, because the scale of the consequences, such as arrests and forceful abductions. To survive through these tragedies, they opened a restaurant as a symbol of solidarity among exiles. Restoran Indonesia in Paris, became part of emancipation movement by Indonesians who cared about human-rights issues among other immigrants. Restoran Indonesia was boycottted by Soeharto’s regime, the inconsiderate label of the ‘red’ restaurant never dettered their spirit to be a monument of human-rights struggles.

 

Program When Strangers Meet: Visions of Asia and Europe in Film

National Museum of Singapore, May 2012.

 

Alliance Francaise, Bali, 2011.

 

Center Culturel et de Cooperation Linguistique, Surabaya, 2011.

 

Center Culturel Francais de Bandung, 2011.

 

Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta, 2011.

 

Center Culturel Francais de Jakarta, 2011.

 

 

yang bertanah air, tak bertanah

a.dananjaya I documentary I approx.60 minutes I colour I indonesia w/english subtitle I 2009

Synopsis:

yang bertanah air, tak bertanah put forwards eyewitness stories of former members of Lembaga Kebudayaan Rakyat (Folk Culture Organization) on their revolution movement, as a continuation of the unfinished revolution of 1945. There was a chain of revolutionary events that did not stop only with political struggles, but continued on through struggles in the cultural field. This folk-based cultural organization was born on August 17, 1950 and ended because of the military oppression tragedy of 1965. Ironically, the history of Lekra was kept-quiet and hidden during the Orde Baru regime. Lekra figures that tell their eyewitness stories in this documentary picture includes Permadi Lyosta, member of Folk Painters; Hersri Setiawan, leader of Lekra Central Jawa; S. Anantaguna, member of central Lekra; Mia Bustam, leader of Lekra Yogyakarta; and figures from  Bumi Tarung, an art center under Lekra, such as Amrus Natalsya, Misbach Thamrin, and Djoko Pekik.

 

Jogja National Museum, Yogyakarta, 2009.

 

Dies Natalies Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2009.

 

Taman 65, Bali, 2009.

 

Taman Budaya Yogyakarta, 2009.

 

SMUK Santo Albertus, Malang, 2009.

 

Komunitas Pelangi, Malang, 2010.

 

Universitas Gadjah Mada, Fak. Ilmu Budaya, Yogyakarta, 2010.

 

 

 

SERODJA ! Workshop Media and Alternative History

serodja#1